Namanya tidak perlu saya sebut.
Dia bukan siswi berprestasi.
Nilainya biasa saja.
Sering terlambat.
Sering ditegur.
Guru-guru lain sudah memberi label: “Anak Bermasalah”.
Suatu hari saya memanggilnya setelah kelas selesai.
“Kenapa kamu sering terlambat?”
Dia tidak langsung menjawab.
Matanya menunduk.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan: “Saya harus antar adik dulu, Pak. Orang tua kerja pagi.”
Saya terdiam.
Label yang selama ini menempel tiba-tiba runtuh.
Sejak hari itu saya berhenti melihat murid dari angka.
Saya mulai melihat mereka sebagai manusia.
Dengan cerita.
Dengan beban.
Dengan perjuangan yang tidak selalu terlihat.
Beberapa bulan kemudian, siswi itu menghampiri saya.
“Pak, saya mau berubah.”
Saya tersenyum.
Bukan karena dia janji berubah.
Tapi karena dia merasa cukup aman untuk berkata jujur.
Dan di situlah saya belajar:
Guru bukan hanya pengajar.
Guru adalah tempat pulang.