Bagi sebagian guru, kata koding masih terdengar menakutkan. Identik dengan angka, simbol aneh, layar hitam penuh teks, dan anak-anak “jenius” yang mengetik cepat tanpa salah. Tak jarang guru langsung berkata, “Saya bukan orang IT” atau “Sudah tua untuk belajar koding.”
Padahal, di era Kurikulum Merdeka dan pembelajaran berbasis teknologi, koding bukan lagi milik segelintir orang. Koding adalah bahasa baru literasi, sama seperti membaca, menulis, dan berhitung. Guru tidak dituntut menjadi programmer hebat, tetapi memahami logika dan cara berpikir komputasional agar bisa membimbing peserta didik dengan percaya diri.
Lalu, bagaimana cara guru meningkatkan skill belajar koding tanpa harus merasa tertekan?
1. Ubah Mindset: Koding Bukan Tentang Hafalan, tapi Logika
Kesalahan pertama banyak guru adalah menganggap koding sebagai pelajaran hafalan sintaks. Padahal, inti koding adalah cara berpikir runtut, logis, dan sistematis.
Sama seperti saat guru mengajarkan langkah-langkah menyelesaikan soal cerita atau prosedur eksperimen IPA, koding juga bekerja dengan prinsip:
- Masalah
- Langkah penyelesaian
- Urutan yang benar
- Evaluasi hasil
Ketika mindset berubah, koding tidak lagi terasa asing. Guru cukup bertanya pada diri sendiri: “Bagaimana saya biasanya mengajarkan logika?”
2. Mulai dari Visual, Bukan Teks
Guru pemula sebaiknya tidak langsung terjun ke bahasa pemrograman berbasis teks seperti Python atau Java. Mulailah dari platform visual berbasis blok, seperti:
- Scratch
- Blockly
- Code.org
Platform ini menggunakan sistem drag and drop yang sangat ramah bagi guru. Tanpa sadar, guru sedang belajar:
- Konsep algoritma
- Perulangan (loop)
- Percabangan (if–else)
- Debugging sederhana
Belajar koding visual ibarat belajar mengendarai sepeda dengan roda bantu—aman dan menyenangkan.
3. Sisihkan Waktu Kecil tapi Konsisten
Tidak perlu belajar koding berjam-jam. Justru konsistensi lebih penting daripada durasi.
Cukup:
- 15–30 menit per hari
- Fokus satu konsep kecil
- Praktik langsung, bukan hanya menonton video
Guru sering kehabisan waktu bukan karena tidak punya waktu, tetapi karena menunggu waktu “luang”. Padahal, skill tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan rutin.
4. Belajar sebagai Guru, Bukan sebagai Murid
Guru tidak harus memahami semua detail teknis. Yang penting adalah:
- Memahami konsep dasarnya
- Tahu contoh penerapannya
- Mampu menjelaskan dengan bahasa sederhana
- Saat belajar koding, bayangkan sedang menyiapkan bahan ajar:
Bagaimana menjelaskannya ke siswa?
Apa contoh sehari-hari yang relevan?
Kesalahan apa yang mungkin terjadi?
Dengan cara ini, guru belajar lebih kontekstual dan tidak cepat menyerah.
5. Manfaatkan Komunitas Guru
Belajar sendirian sering membuat guru cepat berhenti. Bergabunglah dengan:
- Komunitas guru koding
- Grup WhatsApp atau Telegram guru informatika
- Webinar dan pelatihan daring
Di komunitas, guru bisa:
- Bertanya tanpa malu
- Berbagi kegagalan dan solusi
- Saling menyemangati
Koding bukan lomba siapa paling cepat, tetapi perjalanan bersama.
6. Integrasikan Koding dengan Mata Pelajaran Lain
Guru non-informatika sering merasa koding bukan wilayahnya. Padahal koding bisa diintegrasikan ke hampir semua mapel:
Bahasa Indonesia: membuat alur cerita interaktif
Matematika: simulasi perhitungan
IPA: model siklus atau eksperimen sederhana
IPS: peta interaktif dan data sederhana
Saat koding dikaitkan dengan mapel yang dikuasai, guru akan merasa lebih percaya diri dan relevan.
7. Jangan Takut Salah dan Gagal
Dalam dunia koding, error adalah guru terbaik. Bahkan programmer profesional pun akrab dengan kesalahan.
Guru perlu berdamai dengan:
- Program tidak jalan
- Perintah salah
- Hasil tidak sesuai harapan
Justru dari situlah proses belajar terjadi. Sikap ini juga akan menular ke siswa: bahwa gagal bukan aib, melainkan bagian dari belajar.
Penutup: Guru Belajar, Siswa Tumbuh
Ketika guru berani belajar koding, sesungguhnya guru sedang memberi teladan paling penting kepada muridnya: belajar sepanjang hayat. Bukan soal seberapa mahir, tetapi seberapa mau mencoba.
Koding bukan tentang menjadi ahli teknologi, melainkan tentang menyiapkan generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan solutif. Dan perubahan besar itu selalu dimulai dari satu langkah kecil: guru yang mau belajar hari ini.