Lihatlah tangan itu... Tangan yang kini gemetar, kulitnya selembar kertas tua yang retak, Di sana tertulis ribuan cerita tentang peluh yang tak pernah mengeluh, Tentang malam-malam tanpa kantuk demi menjaga lelap tidurku.
Dunia mungkin melihat mereka sebagai "masa lalu", Sebagai langkah yang melambat atau suara yang berulang. Tapi bagiku, mereka adalah perpustakaan yang berjalan, Gudang kebijaksanaan yang takkan habis ditelan zaman.
Aku adalah anak yang memilih untuk merunduk, Bukan karena aku kecil atau tak berdaya. Aku merunduk karena aku tahu, di depanku ada gunung ilmu, Ada matahari yang telah lebih dulu membakar diri, Hanya agar jalan yang kupijak menjadi terang benderang.
Adabku bukan sekadar "permisi" atau mencium tangan, Adabku adalah menjaga perasaanmu agar tak tersayat lisan. Aku takkan meninggikan suara saat bicaramu mulai melambat, Sebab aku ingat, dahulu kaulah yang mengajariku mengeja kata dengan sabat.
Apa artinya cerdas jika hatimu buta pada orang tua? Apa gunanya gelar tinggi jika kau lupa cara menghargai rahim yang melahirkanmu? Karakter sejati tak diukur dari seberapa berani kau membangkang, Tapi dari seberapa tulus kau memuliakan mereka yang kini mulai lekang.
Aku akan menjadi payung saat hujan ingatanmu mulai jatuh, Menjadi tongkat saat kakimu tak lagi mampu menempuh. Karena menghormatimu adalah caraku menghormati kemanusiaan, Dan menyayangimu adalah caraku mengetuk pintu Tuhan.
Sebab aku tahu pasti... Satu doa dari bibirmu yang tulus itu, Lebih kuat dari sejuta usaha yang kukejar tanpa restu.