15 Januari 2026

Bagaimana Cara Meningkatkan Skill Belajar Koding dan Kecerdasan Artifisial Bagi Guru? Dari Takut Jadi Tertarik Belajar KKA

Konsep gambar by Gemini AI

Bagi sebagian guru, kata koding masih terdengar menakutkan. Identik dengan angka, simbol aneh, layar hitam penuh teks, dan anak-anak “jenius” yang mengetik cepat tanpa salah. Tak jarang guru langsung berkata, “Saya bukan orang IT” atau “Sudah tua untuk belajar koding.”

Padahal, di era Kurikulum Merdeka dan pembelajaran berbasis teknologi, koding bukan lagi milik segelintir orang. Koding adalah bahasa baru literasi, sama seperti membaca, menulis, dan berhitung. Guru tidak dituntut menjadi programmer hebat, tetapi memahami logika dan cara berpikir komputasional agar bisa membimbing peserta didik dengan percaya diri.

Lalu, bagaimana cara guru meningkatkan skill belajar koding tanpa harus merasa tertekan?

1. Ubah Mindset: Koding Bukan Tentang Hafalan, tapi Logika

Kesalahan pertama banyak guru adalah menganggap koding sebagai pelajaran hafalan sintaks. Padahal, inti koding adalah cara berpikir runtut, logis, dan sistematis.

Sama seperti saat guru mengajarkan langkah-langkah menyelesaikan soal cerita atau prosedur eksperimen IPA, koding juga bekerja dengan prinsip:

  • Masalah
  • Langkah penyelesaian
  • Urutan yang benar
  • Evaluasi hasil

Ketika mindset berubah, koding tidak lagi terasa asing. Guru cukup bertanya pada diri sendiri: “Bagaimana saya biasanya mengajarkan logika?”

2. Mulai dari Visual, Bukan Teks

Guru pemula sebaiknya tidak langsung terjun ke bahasa pemrograman berbasis teks seperti Python atau Java. Mulailah dari platform visual berbasis blok, seperti:

  • Scratch
  • Blockly
  • Code.org

Platform ini menggunakan sistem drag and drop yang sangat ramah bagi guru. Tanpa sadar, guru sedang belajar:

  • Konsep algoritma
  • Perulangan (loop)
  • Percabangan (if–else)
  • Debugging sederhana

Belajar koding visual ibarat belajar mengendarai sepeda dengan roda bantu—aman dan menyenangkan.

3. Sisihkan Waktu Kecil tapi Konsisten

Tidak perlu belajar koding berjam-jam. Justru konsistensi lebih penting daripada durasi.

Cukup:

  • 15–30 menit per hari
  • Fokus satu konsep kecil
  • Praktik langsung, bukan hanya menonton video

Guru sering kehabisan waktu bukan karena tidak punya waktu, tetapi karena menunggu waktu “luang”. Padahal, skill tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan rutin.

4. Belajar sebagai Guru, Bukan sebagai Murid

Guru tidak harus memahami semua detail teknis. Yang penting adalah:

  • Memahami konsep dasarnya
  • Tahu contoh penerapannya
  • Mampu menjelaskan dengan bahasa sederhana
  • Saat belajar koding, bayangkan sedang menyiapkan bahan ajar:

Bagaimana menjelaskannya ke siswa?

Apa contoh sehari-hari yang relevan?

Kesalahan apa yang mungkin terjadi?

Dengan cara ini, guru belajar lebih kontekstual dan tidak cepat menyerah.

5. Manfaatkan Komunitas Guru

Belajar sendirian sering membuat guru cepat berhenti. Bergabunglah dengan:

  • Komunitas guru koding
  • Grup WhatsApp atau Telegram guru informatika
  • Webinar dan pelatihan daring

Di komunitas, guru bisa:

  • Bertanya tanpa malu
  • Berbagi kegagalan dan solusi
  • Saling menyemangati

Koding bukan lomba siapa paling cepat, tetapi perjalanan bersama.

6. Integrasikan Koding dengan Mata Pelajaran Lain

Guru non-informatika sering merasa koding bukan wilayahnya. Padahal koding bisa diintegrasikan ke hampir semua mapel:

Bahasa Indonesia: membuat alur cerita interaktif

Matematika: simulasi perhitungan

IPA: model siklus atau eksperimen sederhana

IPS: peta interaktif dan data sederhana

Saat koding dikaitkan dengan mapel yang dikuasai, guru akan merasa lebih percaya diri dan relevan.

7. Jangan Takut Salah dan Gagal

Dalam dunia koding, error adalah guru terbaik. Bahkan programmer profesional pun akrab dengan kesalahan.

Guru perlu berdamai dengan:

  • Program tidak jalan
  • Perintah salah
  • Hasil tidak sesuai harapan

Justru dari situlah proses belajar terjadi. Sikap ini juga akan menular ke siswa: bahwa gagal bukan aib, melainkan bagian dari belajar.

Penutup: Guru Belajar, Siswa Tumbuh

Ketika guru berani belajar koding, sesungguhnya guru sedang memberi teladan paling penting kepada muridnya: belajar sepanjang hayat. Bukan soal seberapa mahir, tetapi seberapa mau mencoba.

Koding bukan tentang menjadi ahli teknologi, melainkan tentang menyiapkan generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan solutif. Dan perubahan besar itu selalu dimulai dari satu langkah kecil: guru yang mau belajar hari ini.

Standar Kompetensi Lulusan SD - Permendikdasmen No 10 Tahun 2025

 

Capaian perkembangan ini difokuskan pada beberapa aspek perkembangan anak, meliputi:

A. Kemampuan Beragama dan Berakhlak Mulia

Membiasakan diri mengamalkan ajaran agama atau kepercayaan yang dianut dan melaksanakan ibadah secara mandiri sesuai agama masing-masing. Murid menunjukkan perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari, seperti sikap kasih sayang, kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab, serta memahami konsep hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, sesama manusia, dan lingkungan sekitarnya.

B. Identitas Diri dan Interaksi Budaya

Mengenal serta mengekspresikan identitas diri dan budaya sendiri, menghargai keragaman budaya dalam masyarakat dan budaya nasional, mengenal budaya global, melakukan interaksi antarbudaya, serta mampu mengklarifikasi prasangka dan stereotip. Murid juga menaati aturan dan berpartisipasi aktif dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

C. Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah

Memiliki rasa ingin tahu, mampu menganalisis permasalahan dan ide-ide sederhana, menyampaikan argumentasi secara logis, memilah informasi yang relevan, membuat keputusan yang tepat, serta menerapkan literasi dan numerasi dalam menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari.

D. Kreativitas dan Inovasi

Mampu menyampaikan gagasan secara jelas serta menghasilkan tindakan atau karya sederhana yang kreatif. Murid juga dapat menemukan alternatif solusi dalam menyelesaikan masalah yang ada di lingkungan sekitarnya. 

E. Kepedulian Sosial dan Kolaborasi

Menunjukkan sikap peduli terhadap sesama, memiliki perilaku berbagi, serta mampu bekerja sama dengan orang lain di lingkungan keluarga maupun satuan pendidikan, dengan bimbingan orang dewasa.

F. Tanggung Jawab dan Kemandirian

Menunjukkan sikap bertanggung jawab dalam proses pembelajaran dan pengembangan diri, serta mampu mengatur diri sendiri dan berusaha secara aktif untuk meningkatkan kompetensi dan kemampuannya.

G. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Menjalani pola hidup bersih dan sehat secara mandiri dengan memperhatikan prinsip-prinsip kebugaran, kesehatan fisik dan mental, serta menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.

H. Kemampuan Berbahasa dan Berkomunikasi

Mampu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dengan baik dan benar sesuai kaidah dan etika, dalam konteks pengalaman pribadi, interaksi sosial, serta tema pengetahuan, menggunakan berbagai bentuk komunikasi, baik verbal maupun nonverbal.

13 Januari 2026

"BERHENTILAH MEMBUAT MODUL AJAR"

ilustrasi gambar @gemini.ai


Ketika ada teman meminta file modul ajar ke saya, lalu saya jawab : “Saya tidak punya Modul Ajar.”

Maka Saya pastikan, si teman itu akan mengira saya berbohong.

Ini cukup sering terjadi. Bahkan saya pernah dicap ‘pelit’. 

Padahal pelit bagaimana. Memang saya tidak punya Modul Ajar.

——

Nah, perkara membuat modul ajar ini, sudah jadi tradisi utama dalam dunia para Guru selama beberapa tahun terakhir. Sebut saja sejak era Kurikulum Merdeka. 

Modul ajar tampil sebagai hal baru yang seakan-akan jadi pengganti RPP. Modul Ajar seolah wajib dibuat sebagai satu-satunya bentuk dokumen perencanaan pembelajaran. Kalau mau mengajar, harus ada Modul Ajar. Pemikiran ini berlaku di semua tempat. Di semua sekolah. Dari kota hingga pelosok. 

Uniknya, lama-lama tradisi ini bertransformasi. Dari yang awalnya hanya sekedar membuat modul ajar seperti contoh di aplikasi PMM, seiring berjalannya waktu kok malah terkesan seperti perlombaan. 

Pelan-pelan bermunculan Modul ajar dalam bentuk Penuh warna-warni pastel, font lucu, gambar-gambar menarik, komponen-komponen tambahan, dan ada juga yang tebalnya sudah mirip skripsi mahasiswa tingkat akhir. Lalu mulai muncul fenomena modul ajar dengan format kompleks dan baku. Sehingga guru-guru yakin bahwa modul ajar itu formatnya harus begini dan begitu.

Anehnya, fenomena modul ajar yang kompleks dan kaku ini seperti hantu di sekolah-sekolah. Tidak jelas siapa yang memulai, tapi diikuti secara berjamaah. Ada semacam rasa bersalah kolektif jika tidak membuat modul yang "wah". Padahal, sejak Kurikulum Merdeka lahir sampai hari ini, tidak pernah ada diktat suci yang mewajibkan format baku yang bikin sesak napas itu.

Yang lebih lucu (sekaligus miris), banyak guru yang rela merogoh kocek demi membeli paket modul ajar instan. Ini ibarat membeli tiket surga dari calo administratif. Padahal, ruh dari perencanaan pembelajaran adalah relevansi dengan murid di kelas sendiri, bukan hasil copy-paste dari admin grup WhatsApp yang entah siapa.

——

Mari kita buka mata dan baca aturan main yang sebenarnya. Sejak dulu hingga detik ini. Tidak pernah ada ketentuan soal format dan keharusan membuat dokumen perencanaan pembelajaran dalam bentuk Modul Ajar. Pun terkait estetikanya.

Termasuk Dalam aturan terbaru, yaitu Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang standar proses. 

pemerintah sudah sangat "baik hati" (atau mungkin mereka juga lelah melihat tumpukan kertas tak berguna).

Dokumen perencanaan pembelajaran itu syaratnya cuma tiga, tidak perlu tujuh rupa:

1. Tujuan Pembelajaran (Mau bawa murid ke mana?)

2. Langkah Pembelajaran (Caranya lewat mana?)

3. Teknik Asesmen (Gimana tahu kalau mereka sudah sampai?)

Cuma itu! Tidak ada kewajiban pakai sampul mengkilap, tidak ada keharusan punya lampiran setebal bantal. Guru bebas menentukan formatnya. Mau ditulis di buku catatan, diketik satu halaman, atau bahkan dibuat poin-poin sederhana di atas selembar kertas—selama ada tiga komponen itu, Anda sudah sah secara konstitusi pendidikan!

Berhenti Mendengarkan "Katanya"

Sudah saatnya guru berhenti menjadi pengikut setia dari "Narasumber Katanya". Jangan telan mentah-mentah arahan oknum yang hobi memberi beban administratif tambahan hanya karena mereka diberi panggung. berpeganglah  pada satu saja: Aturan yang berlaku.

Waktu yang habis dipakai untuk memilih font dan mengatur margin di Canva, seharusnya bisa kita pakai untuk:

- Mencari cara agar si Budi tidak tidur lagi di kelas.

- Memikirkan eksperimen seru yang bikin murid antusias belajar 

- Atau sekadar bernapas dan minum kopi hangat 

Berhentilah membuat modul ajar yang menyiksa diri sendiri. Mari kembali ke esensi: Mengajar itu tentang interaksi dengan manusia, bukan tentang tumpukan kertas yang akhirnya hanya akan berakhir di gudang sekolah atau folder laptop yang berdebu.

Saya sudah sampaikan aturannya sesuai peraturan perundang-undangan. Sekarang pilihan ada ditangan Anda. 

mau bikin dokumen perencanaan yang simpel saja, Atau masih mau lanjut bikin modul ajar rumit seusai format dari narasumber ? Pilihan ada di jempol Anda.

12 Januari 2026

Bagaimana caranya agar kita sukses dengan etika karakter

Gambar ilustrasi @gemini.ai


Meraih karakter baik atau karakter mulia?

(1) Ilmu. Mempelajari ilmu tentang etika dan karakter. Anda membaca tulisan ini adalah contoh memperkuat karakter melalui ilmu. Dan, masih banyak ilmu lainnya.

(2) Amal. Moral. Praktek mengerjakan kebaikan moral, sudah pasti, menguatkan karakter Anda. Menolong fakir miskin, membantu teman, berbagi ilmu adalah beberapa contoh di antaranya.

Dua poin di atas, ilmu dan amal, berhasil menguatkan karakter siapa saja. Secara umum, dua poin di atas sudah mencukupi. Untuk perjalanan yang lebih tinggi, silakan berikut ini.

(3) Pesona ruhani. Sebagian orang mengalami pesona ruhani, atau pesona spiritual, atau pesona intelektual. Di antara yang mengalami, sebagian benar-benar terpesona. Sebagian yang lain, biasa-biasa saja atau bahkan cuek.

Pesona intelektual adalah pintu untuk menuju kamil. Orang yang bertekad menjadi kamil perlu melewatinya. Bagi yang tidak berminat, tidak menjadi masalah. Tersedia bagi mereka kebahagiaan dalam mode material dan mode imajinal. Sementara, kamil justru membatasi diri dalam mode material dan imajinal. Kamil akses material dan imajinal hanya sekedarnya saja dan digunakan untuk membantu sesama atau semesta. Kamil lebih banyak aktivitas dalam pesona intelektual. Tentu, sambil merangkul material dan imajinal.

(4) Karunia Ilahi. Karakter tertinggi adalah karunia Ilahi.


01 Januari 2026

Membuat Rencana Program Pembelajaran yang Baik

Gambar menggunakan ilustrasi dari ChatGPT

Rencana program pembelajaran adalah dokumen yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Rencana ini membantu guru untuk mengatur dan mengorganisir proses pembelajaran, sehingga siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Berikut adalah langkah-langkah untuk membuat rencana program pembelajaran yang baik:

Langkah 1: Identifikasi Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran adalah apa yang ingin dicapai oleh siswa setelah proses pembelajaran. Identifikasi tujuan pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan berikut:

- Apa yang ingin saya ajarkan kepada siswa?

- Apa yang ingin siswa pelajari?

- Apa yang ingin siswa dapat lakukan setelah proses pembelajaran?

Langkah 2: Analisis Kurikulum

Analisis kurikulum adalah proses mempelajari dan memahami kurikulum yang berlaku. Identifikasi standar kompetensi, indikator, dan materi pembelajaran yang terkait dengan tujuan pembelajaran.

Langkah 3: Identifikasi Sumber Daya

Identifikasi sumber daya yang tersedia, seperti:

- Sumber daya manusia (guru, siswa, orang tua)

- Sumber daya materi (buku, alat, teknologi)

- Sumber daya lingkungan (ruang kelas, lapangan, komunitas)

Langkah 4: Membuat Rencana Pembelajaran

Buat rencana pembelajaran yang mencakup:

- Tujuan pembelajaran

- Materi pembelajaran

- Metode pembelajaran

- Aktivitas pembelajaran

- Penilaian

Langkah 5: Implementasi Rencana Pembelajaran

Implementasikan rencana pembelajaran dengan:

- Mengajar dengan menggunakan metode yang sesuai

- Menggunakan sumber daya yang tersedia

- Mengamati dan menilai proses pembelajaran

Langkah 6: Evaluasi dan Revisi

Evaluasi rencana pembelajaran dengan:

- Mengamati proses pembelajaran

- Menguji hasil belajar siswa

- Merevisi rencana pembelajaran jika perlu


Komentar MasYan

"Saya setuju bahwa rencana program pembelajaran yang baik sangat penting dalam proses pembelajaran. Guru harus dapat membuat rencana pembelajaran yang efektif dan fleksibel, sehingga siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan."


Tips Membuat Rencana Pembelajaran yang Baik

- Buat rencana pembelajaran yang spesifik, terukur, dan dapat dicapai

- Gunakan metode pembelajaran yang variatif dan menarik

- Sertakan aktivitas pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari

- Lakukan evaluasi dan revisi secara teratur


Kesimpulan

Membuat rencana program pembelajaran yang baik adalah proses yang penting dalam proses pembelajaran. Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, guru dapat membuat rencana pembelajaran yang efektif dan membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

Postingan Populer